Istimewanya Soto Sekengkel Banyumas

14/05/2011 08:01:07

Soto Sekengkel. Mungkin namanya kurang familiar di Yogya. Tapi dalam Festival Soto Nusantara di Jakarta belum lama ini, soto sekengkel asal Banyumas ini menjadi favorit pengunjung. Stand soto yang dikelola Pak Jon’s ini tidak pernah sepi pengunjung.
Namanya yang ‘tidak biasa’ menjadi salah satu pesona yang membuat orang ingin mencicipi. Dan setelah mencicipi, tidak ada yang tidak melontarkan pujian. Bahkan warung yang berlokasi di Jl Raya Banyumas-Butuh di Desa Karangrau ini pernah di shoot pula oleh televisi China. Kalau televisi swasta nasional, diakui pemilik nama asli Tarjono Wignjopranoto ini, sudah tidak terbilang.
“Sekengkel ini sebenarnya Bahasa Belanda yang artinya kaki sapi,” ujar ayah 5 anak tersebut mengawali pembicaraan dengan KR, suatu sore. Nama yang berbeda dan mudah dikenang inilah yang membuat seseorang akan selalu kembali ke warung di samping kediamannya. Tidak jarang kalau pagi, ujarnya, kendaraan rombongan atau travel berhenti di sini, penumpang mandi dan kemudian santap sarapan di sini. Atau tidak jarang, rombongan yang akan melintas menelepon dulu akan singgah jam berapa untuk sarapan atau makan siang.

Penampilan soto sekengkel cukup spesifik. Meski konsumen juga dari pejabat tinggi, Pak Jon tidak mengubah tampilan. Semangkuk daging sekengkel, dipadu dengan ketupat yang diiringi sambel kacang (seperti bumbu pecel yang terdiri dari kacang goreng ditumbuk dan diberi bumbu bawang putih serta cabai) serta kerupuk warna-warni atau kerupuk kampung. “Kalau sudah sore, mungkin rasanya sudah lebih asin,” ujarnya mengingatkan. Karena tidak pernah menambah air untuk kuah yang dimasak, sangat mungkin bumbu menjadi kian meresap. Dan ia akan menutup warung bila memang kuah sudah habis.
Wedono Sumpiuh
Sesungguhnya, Tarjono dulu hanya berjualan soto daging Sokaraja. Namun warungnya tidak terlalu ramai pengunjung. Sampai kemudian suatu hari, datang seorang tamu yang mantan Wedono Sumpiuh. Beliau berpesan, katanya, kalau ingin dagangannya laris ya dibuat yang spesifik. “Kemudian, ketemulah dengan sekengkel tersebut dan mulai berjalan tahun 2000,” ujarnya sembari tertawa.
Nikmat dan segarnya soto sekengkel, tidak lepas dari tangan dan cara memasaknya. Pertama, bumbu mrica dan ketumbar, tidak sekadar ditumbuk namun juga kemudian diayak. Kemudian jahe dan kunir ditumbuk, setelah itu bawang merah dan kemiri tumbuk. Semua dicampur dengan serai kamujara yang digeprok. “Semua bumbu yang sudah dicampur ini kemudian ditumis dengan menggunakan minyak yang muncul dari rebusan sekengkel,” ujar Pak Jon tanpa khawatir ditiru.
Kini, setiap hari sedikitnya ia menghabiskan 4 sekengkel ditambah thethelan ditambah yang lain memenuhi permintaan konsumen yang datang kepadanya. Karena itu selain soto sekengkel, di daftar menu juga tertulis sedia soto ‘terpedo’, ‘granat’ dan ‘neko-neko’ serta daging.
Dengan 7 karyawan di warung, Tarjono yang juga seorang dalang ini, juga masih membuat ramuan soto sendiri, untuk para tamunya. “Sekarang di sini saya sudah mengkader anak saya, Sugito,” ujar Pak Jon yang juga memiliki 3 cabang di Jakarta yang dikelola dan menjadi usaha sampingan anak-anaknya. (Fsy)-g
Sumber :
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=239125&actmenu=46

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s